MAIRIL BAB 2

Para santri, lulusan pesantren serta orang-orang Islam di Indonesia, pasti banyak yang tahu tentang sodomi dan lesbi yang umum terjadi di pesantren, bisa tahu dari pengalaman pribadi, melihat sendiri, atau mendapat informasi dari orang lain.
Memang sodomi, lesbi, atau kekerasan seksual tidak pernah diajarkan di pesantren, bahkan Islam konon mengharamkan homoseksualitas, namun karena Al-Quran adalah kitab yang sangat multitafsir, beberapa ayatnya ada yang terkesan setuju dengan perilaku homoseksual, misalnya yang menguraikan tentang pelayan lelaki muda belia yang muda selamanya, yang melayani para mukmin di surga.


Istilah yang biasa digunakan kalangan pesantren untuk menyebut perilaku sodomi ialah mairil. Di media massa sering kita temukan berita sodomi, perkosaan, serta pelecehan seksual yang terjadi di pesantren-pesantren khusus putra maupun khusus putri, namun, perilaku sodomi, lesbi, atau kekerasan seksual di pesantren ibarat puncak sebuah gunung es, hanya sedikit puncaknya yang terlihat, sebagian besar tersembunyi dalam lautan.
Banyak kasus yang tidak dilaporkan, karena yang menjadi korbannya malu atau takut untuk menceritakannya. Selama ratusan tahun pesantren eksis di Indonesia, adalah hal wajar, bila sudah ribuan bahkan jutaan santri yang pernah melakukan atau menjadi korban sodomi, perkosaan, atau pelecehan seksual.

Di pesantren, para santri dalam jumlah besar tinggal di satu tempat, dan seringkali harus tidur berdesakan dan mandi bersama-sama sedangkan banyak santri yang sedang mengalami masa-masa pubertas. Sedangkan pesantren membatasi sangat ketat pergaulan antara santri putra dengan santri putri atau antara santri dengan orang luar.
Pembatasan interaksi dengan lawan jenis sembari berinteraksi secara intens dengan sesama jenis ini dapat berpotensi memicu santri yang tidak menemukan penyaluran untuk melakukan perilaku seksual yang menyimpang. Sangat mungkin dari ratusan santri, satu atau dua orang memang memiliki kelainan seksual, sehingga mereka dapat mempengaruhi dan merusak temannya.
Lagipula agama
Islam sering membahas masalah seksual dengan sangat detail, misalnya tentang mandi junub, dan sebagainya, sehingga bisa saja ada santri yang semakin terobsesi dengan seks.
Juga karena agama Islam lebih mengutamakan detail-detail ibadah seperti cara shalat yang benar, cara istinjak yang benar, bagaimana berjimak yang islami, dan sebagainya, sehingga kurang atau bahkan tidak memperhatikan penumbuhan moral para santrinya. 

Yang penting adalah perbuatan dilakukan sesuai dengan perintah Al-Quran sembari mencontoh perilaku nabi
Muhammad melalui Al-Hadith dan Sirah Nabi, bermoral atau tidak tidak perlu dipermasalahkan, misalnya menghalalkan darah yang menghina Islam, dan tindakan kekerasan lainnya yang dilakukan atas nama agama islam. Berbeda dengan agama

Kristen, Buddha atau lainnya, yang mengutamakan moral manusia dibanding ritual agama, mengutamakan kasih dan golden rule. Para santri yang pernah

melakukan mairil dan sebagainya, akhirnya setelah lulus ada yang menjadi tokoh masyarakat, pejabat negara, kyai dan sebagainya, mereka menikah dan mempunyai anak. Ada yang memimpin atau mendirikan pesantren. Karena itu, berita pencabulan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh kyai kepada para santrinya tidak terlalu mengagetkan, mungkin saja kyai tersebut dulunya adalah korban kekerasan seksual menyimpang, yang akhirnya malah menjadi pelaku, karena keenakan. 

Bahkan, Verry Idham Heryansyah alias Ryan juga pernah menjadi santri dari salah satu pesantren terkenal di Jombang. Memang, bukan hanya tokoh agama Islam saja, yang melakukan perbuatan cabul, pendeta Kristen dan pastor katolik pun ada yang berbuat cabul. Namun, bedanya, di dalam agama Kristen tidak ada ayat dalam kitab sucinya yang dapat dipakai untuk membenarkan perbuatan sesat mereka itu. Bahkan, secara jumlah, perbuatan cabul yang terekspos oleh media massa umumnya adalah yang dilakukan oleh guru ngaji, ulama dan kyai, kasus-kasus yang melibatkan pendeta dan pastor jauh lebih sedikit, di Indonesia maupun di luar negri.

1 komentar:

  1. Assalamualaikum...
    Wahai saudaraku, islam adalah agama yang lurus di atas kebenaran. Tidak ada satu perkara pun yang tidak ada aturannya dalam islam. Islam mengatur dari masalah yang kecil sampai perkara yang besar. Dari perkara cebok/istinjak sampai perkara darah/had.

    Tentunya untuk permasalahan ini Alla Taala sudah menetapkan hukuman untuk orang yang berlaku menyimpang.
    Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya” [HR Tirmidzi : 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561 dan Ahmad : 2727]

    Ini adalah ancaman untuk orang yang berbuat homoseks di dunia.
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]
    Ini adalah laknat Allah untuk orang yang melakukan perbuatan homoseks.

    Jadi kalau Alla Taala melaknat seseorang, kira-kira dia bakal dimasukkan kedalam surga atau neraka? Kamu pasti tahu sendiri lah jawabannya.

    Islam adalah agama yang halus dan sensitif, makanya ayat-ayat yang berkaitan dengan seks itu digunakan bahasa kias. Seperti firman Allah Taala:
    هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
    mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (Q.S. Al-Baqoroh: 187)
    Dan maksut ayat ini adalah jima' atau hubungan suami istri.
    Jadi islam Al-Qur'an menggunakan bahasa yang halus dalam perkara ini.

    Kalau dibilang islam itu kejam karena membunuhi orang yang diluar Islam, itu tidak benar. Apabila Islam tegak di suatu tempat dan mendominasi, maka semua agama yang lain yang ada di bawah naungannya akan tenang karena Islam ada mengatur tentang kafir dzimmi atau orang kafir yang tinggal rukun berdampingan dengan orang Islam.

    Coba kamu lihat kalau Islam itu minoritas di suatu tempat, maka mereka akan diintimidasi bahkan diperangi. Kamu lihat kasus Burma kan? Yang jadi korban siapa?

    Islam tidak akan memerangi suatu kaum di luar Islam sebelum datang kepada mereka ajakan untuk masuk Islam. Kalau mereka menolak, maka mereka ditawarkan untuk bayar jizyah atau upeti, kalau mereka tidak mau baru diperangi. Itu pun kalau kekhalifahan tegak seperti zaman Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassallam dan masa sahabatnya.

    Di dalam perang pun Islam memiliki aturan. Islam melarang untuk membunuh anak-anak, wanita kecuali dia mengangkat senjata juga, dilarang juga untuk menebang pohon dan mengahancurkan rumah ibadah mereka. Jadi di mana kerasnya?

    Saudaraku, jadi kita harus mengetahui sejarah dahulu baru kita berargumen. Janganlah kita semena-mena memfonis Islam itu seperti apa. Kiranya tulisanku ini bermanfaat bagimu. Terimakasih dah baca.

    ReplyDelete

 
Support : Google | Instagram | Souncloud
Copyright © 2013. Annavieza - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Edited by Kompi Ajaib
Published by Mas Template Proudly powered by Blogger
-->